Sabtu, 10 September 2011

KAMUS KATA TANJUNG BALAI

Anggo = Hantu yang bersuara dengan hidung sengau, suka datang kerumah minta kerak nasi ( mitos masyarakat)
Ampughas (gh=r) = sikap licik/penipu/pembohong
Angek = iri
Bughut (gh=r) = hernia
Baghah = Kanker
Batandang = bertamu
Bapokat = Bermufakat
Batalangke = Perantara/berhubungan
Buto Hoghnop (gh=r) = buta huruf/miskin informasi
Batakal = berantam/berkelahi
Bakombugh = Bercerita (gh=r)
Bigham = Biru/lembam (gh=r)
Bongak = bohong/dusta
Bamadu = beristri lebi dari satu
Budak = anak kecil
Bacapuk-capuk = belang-belang
Basuntil = mengulum-ngulum gulungan tembakau di bibir (kebiasaan orang-orang tua)
Cikukan = bersendawa karena kurang minum sesudah makan
Cemes = smash/sambar
Congok = rakus
Caodoh = bodoh/lugu
Ceng = game over/berhenti dari permainan
Dopak = pukulan tamparan/menampar
Disontap Ta'un = ditarik syaitan (doa buruk orang tua yang kalap dengan kejahatan anaknya)
Gading-gading = pengawal Pengantin Laki-laki
Hombal = Asyik/Sering/Berulang-ulang
Induk polong = biang kerok/provokator
Indehoy = Berpacaran
Jontik = sedikit jalang/mentel/play boy
Kombugh Malotup (gh=r) = besar omong/banyak konsep pelaksanaan tak ada
Kaghojo tuntung kapur = kerja sembarangan (gh=r)
Kabolean = Kelaparan sangat
Kilik = menggiring bola sendirian/tanpa kerjasama dengan kawan dalam permainan bola,dribbling.
Kampunan = kepingin
Kabolean=Kelaparan sangat
Lotup = pukulan keras tangan/tinju
Longsut = pukulan panjang dengan tangan
Maleles = mengambil makanan yang sudah jatuh ke tanah...
Mamuncung = merengut

Deretan Muslim Dalam 100 Tokoh Pemikir Global

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – 
Majalah berpengaruh Foreign Policy baru saja mengeluarkan daftar "100 Pemikir Utama Global", memberikan sepuluh tempat bagi profesor, akademisi, politisi, banker, dan jurnalis Muslim.
Zahra Rahnavard, istri pemimpin oposisi Iran Mir Hossein Mousavi, berada di ranking ketiga dalam daftar itu, persis di bawah pemimpin US Federal Reserve Ben Bernanke yang terpilih karena mencegah runtuhnya perekonomian AS, dan Presiden Barack Obama karena mengubah peran Amerika di dunia.
Majalah itu menggambarkan Rahnavard sebagai otak di balik Revolusi Hijau Iran dan kampanye suaminya.
Dijuluki sebagai Michelle Obama-nya Iran, Rahnavard berkampanye untuk suaminya yang mencalonkan diri dalam pemilu presidensial bulan Juni lalu.
Pemegang gelar doktoral dalam ilmu politik, wanita berusia 64 tahun ini pernah menjabat sebagai penasihat Mohamed Khatami, presiden Iran dari tahun 1997 hingga 2005.
Rahnavard adalah peneliti Al Quran dan penulis beberapa buku tentang seni dan politik.
Seorang advokat hak-hak wanita, ia telah lama mengkampanyekan pemberdayaan ekonomi kaum wanita dan mengubah hukum Iran yang cenderung diskriminatif terhadap para wanita.
Sayyid Imam al Sharif, pemimpin spiritual kelompok militan jihad Mesir, berada di posisi ke-10 dalam daftar tahunan majalah tersebut.
"Ia menyusun Merasionalisasi Jihad di Mesir dan di Dunia, sebuah revisi lengkap dari dukungannya yang terdahulu terhadap perang relijius."
Imam, pendiri awal Al Qaeda bersama dengan rekan lamanya Ayman Al Zawahiri, menulis dua buku yang dianggap sebagai pondasi ideologis bagi jihad.
Namun di tahun 2007, ia mengakui di hadapan publik bahwa ia telah mengubah pemahamannya yang terdahulu, menyerukan untuk merasionalisasi jihad.
"Karyanya ini, yang telah menyebar ke seluruh lingkaran jihad, melemahkan legitimasi Al Qaeda dan kelompok-kelompok sejenis lainnya dengan menggunakan narasi teologis mereka sendiri," ujar majalah tersebut.
Ekonom Muslim Amerika Mohamed El Erian berada di peringkat ke-16 dalam daftar "100 Pemikir Utama Global".
"El Erian ikut memimpin salah satu perusahaan investasi paling sukses di dunia, Pimco, Pacific Investment Management Company, yang memiliki aset USD 842 miliar."
Seorang spesialis dalam pasar baru di IMF, ia menjadi kepala penegakan agama di Harvard sebelum bergabung dengan dunia bisnis.
Strategi investasinya dipuji membantu mengubah Pimco menjadi perusahaan investasi terbesar di dunia.
Mantan menteri keuangan Afghanistan Ashraf Ghani berada di ranking 20 untuk usahanya memberantas korupsi.
Majalah itu juga memasukkan mantan wakil perdana menteri Anwar Ibrahim di posisi ke-32 atas perjuangan pro-demokrasinya.
Jurnalis terkenal, Fareed Zakaria, seorang Muslim Amerika keturunan India, berada di peringkat ke-37 karena mendefinisikan batas kekuasaan Amerika dan mengerahkan diskusi publik yang paling cerdas tentang hal itu.
Banker Bangladesh dan pemenang Nobel Muhammad Yunus berada di posisi ke-46 atas perannya memerangi kemiskinan.
Dijuluki "banker orang miskin", mantan profesor ekonomi ini dan bank Grameen-nya mendapat penghargaan Nobel atas upaya akar rumputnya untuk mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan.
Bank yang mentarget kaum wanita karena meyakini bahwa mereka lebih baik daripada laki-laki dalam mengelola keuangan keluarga ini menawarkan pinjaman kecil ke para peminjam miskin untuk membantu mereka membuka usaha.
Pemikir Muslim dari Swiss Tariq Ramadan berada di urutan ke-49 dalam daftar majalah itu. Disebutkan bahwa Ramadan mendedikasikan hidupnya untuk membuktikan bahwa Islam sesuai dengan kehidupan Barat.
"Ramadan ingin menyampaikan Islam yang sesuai dengan demokrasi Eropa (di mana ia tumbuh dan kini bertempat tinggal), salah satu advokat yang terlibat dalam realita politik dunia."
Seorang warga negara Swiss keturunan Mesir, Ramadan adalah salah satu pemikir terdepan Muslim di Eropa dan telah seringkali mengecam terorisme dan ekstremisme.
Ia juga seorang profesor Studi Islam di Universitas Oxford dan peneliti di Universitas Doshisha, Jepang.
Penulis 20 buku dan 700 artikel tentang Islam, ia dinobatkan oleh majalah Time sebagai salah satu dari 100 inovator abad 21 untuk kinerjanya dalam menciptakan Islam Eropa yang independen.
"Selama hidupnya, cucu pendiri Persaudaraan Muslim Hassan al Banna ini telah menjadi sebuah kontradiksi berjalan. Seorang intelektual Islam yang menganut demokrasi namun meyakini bahwa hukum relijius bersifat universal."
Penulis Pakistan Ahmed Rashid berada di posisi ke-51 untuk tulisannya tentang bahaya global di Asia Selatan.
Majalah itu juga memasukkan Perdana Menteri Palestina, Salam Fayyad, di posisi ke- 61 karena menunjukkan bagaimana memimpin dengan efektif di tengah-tengah konflik. (rin/io)
Dikutip dari Berita Suara Media.

Rabu, 03 November 2010

PLEIDOI SEORANG BATAK MUSLIM


JUDUL di atas mungkin akan menimbulkan keheranan bagi para pengunjung blog ini, terutama yang sepaham denganku bahwa Batak adalah satu—tanpa dibeda-bedakan ( dan dipisahkan ! )  oleh subetnis, kedaerahan, dialek, agama dan lain-lain. Aku sengaja mencantumkan istilah “Batak Muslim”, menyesuaikan dengan konsepsi diri penulis artikel “Menuduh Orang Batak” yang aku kutipkan dalam postingan ini.
Artikel tersebut ditulis oleh Nirwansyah Putra di blog miliknya : nirwansyahputra.wordpress.com; sebagai reaksi terhadap tudingan kepada etnis Batak akibat kehebohan yang ditimbulkan oleh lapotuak.wordpress.com. Nirwan yang konon marga Panjaitan ini, setahu aku, tidak pernah menampilkan diri sebagai orang Batak dalam interaksi di dunia maya. Tulisan-tulisan di blognya pun hanya sedikit mengenai etnis Batak, dan yang sedikit itu cuma mengenai “Batak Muslim”.
Bagi yang merasa lega dan bangga atas kiprah “Batak Muslim” seperti Toga Nainggolan, Jarar Siahaan, Syahrul Hanafi Simanjuntak, Srikandini Pohan, Ucok Lubis, dan banyak lagi yang lain; Nirwansyah adalah gambaran yang sangat bertolak belakang. Nirwansyah baru menyatakan diri sebagai Batak (baca : Batak Muslim) ketika dia merasa kebatakan yang melekat dalam dirinya membuatnya dicurigai, dituding dan disudutkan.
Aku tidak berniat menyerang Nirwansyah. Menurutku dia adalah seorang yang jujur sebagai seorang penulis atau blogger. Lagi pula, kita tidak berhak meminta dia harus seperti Toga Nainggolan, yang sejak lahir sudah menjadi muslim, namun tetap bangga dengan karakter dan jati dirinya sebagai manusia Batak; bahkan jago gondang pula.
Nirwansyah dan tulisannya sengaja aku kemukakan di sini untuk menyadarkan kita, bahwa impian mewujudkan “Batak Reunion” itu sangat-sangat sulit, karena “penyakit” segregasi yang menggerogoti Bangso Batak sudah akut betul. Faktor politik dan dinamika sosial telah membuat pemisahan (penyangkalan!) menjadi terasa lebih realistis ketimbang reunifikasi.
Horas Bangso Batak,
Raja Huta

Kamis, 12 Agustus 2010

DISKUSI ORANG-ORANG BATAK DARI TANJUNGBALAI

Siapakah penduduk Asli kota Tanjungbalai ? Secara de facto penduduk Tanjungbalai ini sejak lama didiami penduduk yang terbagi dua kelompok besar yakni masyarat Keturunan Melayu dan masyarakat keturunan Batak. Masyarakat Keturunan Batak yang sejak dahulunya mendiami Kota Tanjungbalai mayoritas beragama Islam. Sehingga tak heran jika rata-rata penduduk Tanjungbalai memiliki marga walaupun hanya sedikit yang mengetahui dan memahami seluk beluk marga yang ia sandang.

De facto, jumlah penduduk keturunan Melayu sangat sedikit jika dibandingkan dengan penduduk Keturunan Batak. Dan konon penduduk Keturunan Melayu inipun dikatakan pendatang, sebab tak sedikit orang Melayu di Tanjungbalai mengaku turunan dari Melayu yang ada di Semenanjung Malaysia.

De facto, di Tanjungbalai pernah ada sebuah Istana sebagai simbol sejarah adanya sebuah kerajaan kecil disini.Dilihat dari struktur bangunannya, istana ini sangat jauh berbeda dibanding istana-istana kerajaan Melayu di merata daerah sekitar Sumatera ini. Arsitekturnya tidak dekat dengan wajah Melayu justru sangat dekat dengan arsitektur Belanda atau Eropa... sehingga tidak salah kalau timbul sebuah pertanyaan..benarkah istana itu istana kerajaan Melayu Tanjungbalai ?

Lantas..ada lagi sepenggal kisah yang mengatakan adanya hubungan antara Raja Aceh dengan orang pertama yang ditemukan di Tanjungbalai ini (yang disebut Raja Margolang atau paling tidak dianggap Raja disini). Dalam silsilah Batak memang tak jelas adanya Marga Margolang tetapi ditilik dari kata mar-golang sepertinya kata-kata dalam bahasa batak artinya memakai-gelang (tidak jelas apakah orang tersebut benat memakai gelang atau tidak). Lalu tidak jelas pula ada atau tidak hubungan istana Raja Melayu tersebut dengan si Raja Margolang itu.

Logikanya adalah, adanya istana tentulah diawali adanya seorang raja dan rakyatnya, istana adalah simbol kekuasaan seseorang atau sekelompok orang atas wilayah dan penduduk disekitarnya. Demikian pula asal-usul orang Batak di Tanjungbalai, disepakati merupakan turunan raja-raja Batak yang ada di daerah sekitar Simalungun,Toba,Samosir. Dalam sepenggal sejarah raja-raja Batak di Simalungun dan Toba serta Samosir akhirnya keturunannya menyebar keberbagai wilayah sekitar Sumatera Utara ini. Bahkan salah satu turunan raja Batak bernama Sinaga merantau hingga kewilayah Asahan (Tanjungbalai sekawasan dengan wilayah ini).

Dikalangan masyarakat Tanjungbalai dikenal istilah "masuk melayu" sebutan untuk anak yang akan dikhitankan (disunnat). Orang Batak di Tanjungbalai hingga sekitar tahun 60-an menyimpan identitas marganya dengan cara menyingkatnya dibelakang nama aslinya (mis ; Pardamean.S.) beda dengan orang Batak di Toba (mis; P.Sinaga). Yang menarik dari persoalan ini adalah;..."mengapa orang-orang Batak di Tanjungbalai ketika itu harus menyimpan kejelasan marganya ? (pada hal marga adalah kebesaran orang Batak/Identitas yang perlu di hormati), apakah ada hubungannya dengan persoalan agama,budaya....lalu berbenturan dengan agama dan budaya siapa ...? Seberapa hebatkah akibat perbenturan budaya itu (kalau memang ada) hingga orang-orang Batak di Tanjungbalai itu menghilangkan/menyembunyikan ke Batak an nya?. Jangan-jangan kerjaan orang Belanda saja. Sama halnya orang Batak yang dipecah belah Belanda dengan menggunakan issue agama (khususnya Islam dan Kristen) pada hal kedua agama itu bukan merupakan agama yang lahir didalam kebudayaan Batak itu sendiri.

Ada lagi yang unik..beberapa orang Tanjungbalai selalu menyebut orang (yang kebetulan beragama Kristen) adalah orang Batak (padahal dia sendiri orang Batak). Harus diakui waktu itu bahwa orang-orang tua (yang beragama Islam dan turunan Batak) di  Tanjungbalai sangat membatasi pergaulan anak-anaknya dengan orang-orang yang bergama kristen (kebetulan mereka orang Batak). Jadi istilahnya Batak = Kristen. Bahkan setiap yang bermarga ketika itu dianggap kristen. Tetapi perlu ditegaskan , tidak ada sejarah yang mencatat bahwa di daerah ini pernah terjadi konflik berdarah antara orang Islam dan orang Kristen demikian pula antara orang keturunan Melayu dengan keturunan orang Batak. Aneh.....memang ! semuanya berjalan dengan baik dan harmonis. (Catatan : orang Batak Tanjungbalai yang dimaksudkan dalam diskusi ini adalah yang nenek-nenek mereka sudah lahir,besar di Tanjungbalai ini pada kisaran tahun 68 ke-bawah.

Yang menarik untuk didiskusikan adalah :
1. Siapakah Raja Si Margolang itu secara menyeluruh.
2. Siapakah pemilik awal Istana Raja di Tanjungbalai itu.
3. Apa perbedaan wilayah Raja Margolang dengan Raja Melayu
4. Bgm peran Penjajahan Belanda dalam memecah-belah orang-orang Batak yang beragama Islam dengan yang beragama Kristen ?
5. Bgm peran penjajah Belanda memecah-belah orang Melayu dengan orang Batak yang
beragama Islam dan sudah lama berada di Tanjungbalai itu ?
6. Sejak kapan orang-orang turunan Batak ini tinggal di wilayah Tanjungbalai ?
7. Sejak kapan orang-orang turunan Melayu ini tinggal di wilayah Tanjungbalai ?
8. Benarkah raja-raja Melayu di Tanjungbalai ini keturunan Raja-raja Melayu di
Malaysia ?

Dalam pranata sosial, kajian-kajian sejarah itu perlu. Ingat yang paling kehilangan garis kehormatan keturunan dalam konteks ini adalah orang-orang Batak Tanjungbalai seperti yang sudah disebutkan diatas. Dikalangan orang Batak yang dari Simalungun,Toba,Samosir mereka dianggap setengah Batak (bahkan bukan Batak), dikalangan orang Melayu mereka tidak dianggap Melayu (paling setengah Melayu lah/pengakuan berdasarkan kasihani tidak mutlak/terhormat).

Dalam kehidupan masyarakat, apapun alasannya pengaruh garis keturunan sangatlah besar, bahkan gara-gara itu bisa kelompok masyarakat tertentu (apalagi minoritas) terisolasi,terdiskriminasi atau terananiaya secara psikhis maupun fisik. Dan perlu diingat bahwa sekecil apapun dan dalam bentuk apapun penganiayaan itu namanya tidak adil,tidak manusiawi.

Orang yang tidak bisa mempertahankan identitasnya oleh perlakuan orang lain bisa dikategorikan penganiayaan sosial yang bisa pula berujung pada penganiayaan ekonomi, budaya dan politik.

Ayo kita diskusi tentang ini agar tidak ada lagi manusia Indonesia yang kehilangan identitas sosial dan kebudayaannya. Agar tidak ada lagi manusia yang merasa diabaikan hak-hak sosial dan budayanya.

Senin, 09 Agustus 2010

KORANG (SEAFOOD ASLI TANJUNG BALAI)

Korang (kerang) ada beberapa macam, ado korang bulu,ado korang daguk,ado bare,ado kamudi kapal (kata orang kota Kerang Hijau).ado kopah (kepah),ado panggang pulut (tiram).
Kerang bulu ada dua jenis
1. bulat montok,padat dan besar-besar (bahasa Tanjungbalainya kasar-kasar),berbulu kulitnya dan berwarna hitam
2. agak pipih dari yang pertama,sedang-sedang ukurannya,bulunya agak jarang berwarna hitam.
3. lonjong memanjang, sedang-sedang ukurannya bahkan banyak yang kecil-kecil (orang Tanjungbalai menyebutnya korang nibung)

Kerang daguk
Bentuknya sungguh berbeda dengan kerang bulu, kerang ini nyaris tak berbulu (kulitnya),tekstur kulitnya lebih kasar dan keras, tebal dan bergerigi.Ukurannya sebesar kelereng atau lebih sedikit,warnanya abu-abu kehijau-hijauan, dagingnya lebih halus dan lembut dibanding daging kerang bulu (yang lebih kenyal)

Bare, bentuknya pipih dan kecil-kecil,berbulu pada pinggiran kulitnya dan pinggiran dagingnya,memiliki ekor yang kulit ekornya seperti plastik (didalamnya ada daging ekor).Berwarna putih tulen.

Kamudi kapal (Kerang hijau), bentuknya pipih memanjang (bak bentuk kemudi sampan jaman dulu),berwarna hijau kehitam-hitaman,ukurannya jauh lebih besar dari kerang lainnya.Dagingnya lunak berwarna kuning,hitam dan kemerah-merahan.

Kopah, berbentuk opal,pipih,ukurannya lebih kurang sama dengan kerang daguk,kulitnya tebal dan keras,mulus tak berbulu dan berkilauan,berwarna putih dan campuran abu-abu putih.Dagingnya lembut dan agak berlendir sebelum dimasak

Panggang pulut (sejenis Tiram), bentuknya seperti logo produsen oli (Shell), isinya lebih kurang hampir sama dengan Kopah.

Bagaimana orang Tanjungbalai mengkonsumsinya ?
Direbus dan dimakan dengan sambal,bisa sambal cabai/bawang/asam jeruk, bisa dengan sambal khas yakni adonan cabai,bawang merah,bawang putih,,kacang goreng tumbuk,pasta nenas matang,saos tomat,garam,kecap.Biasanya kerang lebih disukai jika direbus setengah matang.
Disambal goreng (goreng sambal),biasanya untuk ini lebih dipilih kerang bulu,kerang hijau,kepah.
Digulai santan (istilah orang Tanjungbalai digule lomak), biasanya dipilih kerang bulu,kepah,kerang hijau
Dianyang, kepah mentah yang telah dibumbui dibalur dengan kelapa parut gongseng,garam,irisan bawang merah dan perasan asam jeruk.
Dibuat sate kerang dengan bumbu khas yang terdiri dari kelapa parut halus yang digongseng,batang serai giling,garam,cabai,bawang dsb.Tampilannya biasanya ditusuk dalam bentuk dagingnya yang utuh.
Tentang Panggang pulut, biasanya dibakar besama kulitnya dimakan dengan sambal, tetapi umumnya jarang dimakan oleh masyarakat Tanjungbalai.
Bagaimana cara orang Tanjungbalai merebus kerang bulu dan kerang daguk
Bukan kerangnya langsung direbus,air rebusannya yang dimasak,setelah mendidih (istilah orang Tanjungbalai Manggalogak) kerangnya ditaruh dalam keranjang bambu kecil dan dicelp rendamkan diair panas yang tetap dibiarkan diatas api.Setelah masak atau setengah masak lalu diangkat dn disajikan.Itu untuk masakan Kerang Rebus Khas Tanjungbalai. Kalau untuk rumahan atau konsumsi sehari-hari ada yang langsung direbus.
Kini Warung-warung Kerang Rebus khas Tanjungbalai itu sudah bertebaran dikota-kota lainnya, seperti Medan dll.

Oii mak jang...sodapnyo, mangicap lidah awak !
Menitik air liur awak...

SEJARAH TANJUNG BALAI

Kota Tanjungbalai adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Luas wilayahnya 60 km² dan penduduk berjumlah 125.000 jiwa. Kota ini berada di tepi Sungai Asahan, sungai terpanjang di Sumatera Utara. Jarak tempuh dari Medan sekitar 4 jam.
Kota Tanjungbalai terletak di antara 2° 58' LU dan 99° 48' BT, dengan luas wilayah 60,529 km² (6.052,9 ha), dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Asahan dengan batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Selatan dengan Kecamatan Simpang Empat.
Sebelah Utara dengan Kecamatan Tanjungbalai.
Sebelah Timur dengan Kecamatan Sei Kepayang.
Sebelah Barat dengan Kecamatan Simpang Empat.
Perjalanan Sultan Aceh, Sultan Iskandar Muda, ke Johor dan Melaka tahun 1612 dapat dikatakan sebagai awal dari sejarah Tanjungbalai. Dalam perjalanan tersebut, rombongan sultan beristirahat di kawasan sebuah hulu sungai yang bernama Asahan. Perjalanan dilanjutkan ke sebuah tanjung yang merupakan pertemuan antara Sungai Asahan dengan Sungai Silau, tempat sultan bertemu dengan Raja Simargolang, penguasa setempat. Di tempat itu juga Sultan Iskandar Muda mendirikan sebuah pelataran sebagai balai untuk tempat menghadap, yang kemudian berkembang menjadi perkampungan yang dinamakan Tanjungbalai.Perkampungan ini kelak berkembang menjadi Kesultanan Asahan, yang bermula kira-kira pada abad XVI, pada saat Sultan Abdul Jalil ditabalkan sebagai Sultan Asahan yang pertama dengan gelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah.Setelah dikuasai Belanda, Kota Tanjungbalai menjadi suatu gemeente berdasarkan Besluit Governeur General tanggal 27 Juni 1917 dengan Stbl. no. 284/1917, sebagai akibat dibukanya perkebunan-perkebunan di derah Sumatera Timur, termasuk daerah Asahan, seperti H.A.P.M., SIPEF, London Sumatera ("Lonsum"), dan lain-lain. Kota Tanjungbalai menjadi kota pelabuhan dan pintu masuk ke daerah Asahan yang penting artinya bagi lalu-lintas perdagangan Hindia-Belanda.Sejak Kemerdekaan tercatat 13 walikota yang pernah memimpin Kota Tanjungbalai, yaitu :
1. Dt. Edwarsyah Syamsura [ 1956 – 1958 ]
2. Wan Wasmayuddin [ 1958 – 1960 ]
3. Zainal Abidin [ 1960 – 1965 ]
4. Syaiful Alamsyah [ 1965 – 1967 ]
5. Anwar Idris [ 1967 – 1970 ]
6. Patuan Naga Nasution [ 1970 – 1975 ]
7. H. Bahrum Damanik [ 1975 – 1980 ]
8. Drs. H. Ibrahim Gani [ 1980 – 1985 ]
9. Ir. H. Marsyal Hutagalung [ 1985 – 1990 ]
10. H. Bachta Nizar Lubis, SH. [ 1990 – 1995 ]
11. Drs. H. Abdul Muis Dalimunthe [ 1995 – 2000 ]
12. dr. H. Sutrisno Hadi, Sp.O.G. dan Mulkan Sinaga (wakil) [ 2000 – 2005 ]
13. dr. H. Sutrisno Hadi, Sp.O.G. dan Drs. H. Thamrin Munthe, M.Hum. (wakil) [ 2005 – Sekarang]
Sebelum Kota Tanjungbalai diperluas dari hanya 199 ha (2km²) menjadi 60km², kota ini pernah menjadi kota terpadat di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 orang dengan kepadatan penduduk lebih kurang 20.000 jiwa per km². Akhirnya Kota Tanjungbalai diperluas menjadi ± 60 Km² dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1987, tentang perubahan batas wilayah Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan.
Adapun Kecamatan yang ada di Kota Tanjungbalai adalah sebagai berikut:
1. Kecamatan Datuk Bandar
2. Kecamatan Datuk Bandar Timur
3. Kecamatan Tanjungbalai Selatan
4. Kecamatan Tanjungbalai Utara
5. Kecamatan Sei Tualang Raso
6. Kecamatan Teluknibung
Penduduk :
Tanjungbalai yang dalam sejarahnya menjadi kota perdagangan tidak diragukan lagi merupakan kota multietnik. Berbagai suku bangsa bercampur di sini: Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Nias, dan Tionghoa adalah sebagian dari etnik yang bermukim di kota ini.
Setiap tahunn, pada akhir tahun, diadakan “Pesta Kerang” di Tanjungbalai guna memperingati Hari Ulang Tahun Kota Tanjungbalai. Kota ini dijuluki "Kota Kerang".Kota ini juga memiliki jembatan panjang yang melintasi Sungai Asahan.Tanjungbalai pernah menerima Anugerah Adipura untuk kota terbersih se-Indonesia pada tahun 2008.
Dikutip dari Wikipedia.

Sabtu, 07 Agustus 2010

GEOGRAFIS TANJUNG BALAI

Kota Tanjung Balai terletak di antara 2º58' Lintang Utara dan 99º48' Bujur Timur. Posisi Kota Tanjung Balai berada di wilayah Pantai Timur Sumatera Utara pada ketinggian 0-3 m di atas permukaan laut dan kondisi wilayah relatif datar. Kota Tanjung Balai secara administratif terdiri dari 5 Kecamatan, 19 Desa dan 11 Kelurahan. Luas wilayah Kota Tanjung Balai 6.052 Ha (60,52 km²) Kontribusi terbesar bagi perekonomian Kota Tanjung Balai diberikan oleh sektor pertanian, yaitu 28, 67% dari total PDRB. Peringkat kedua diduduki oleh sektor industri pengolahan (21,30%) dan ketiga oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (16,92%). Dengan melihat besarnya kontribusi ketiga sektor ini, maka wajar bila bidang usaha di sektor-sektor tersebut layak untuk dikembangkan. Kegiatan ekonomi yang menonjol di Kota Tanjung Balai adalah perikanan. Uniknya, Tanjung Balai sebagai kota yang tidak punya laut mampu menghasilkan ikan puluhan ribu ton tiap tahunnya. Produksi perikanan mencapai 34.215 ton per tahun.

WAJAH TANJUNG BALAI TEMPO DOELOE

Ini adalah wajah kota Tanjungbalai tempo doeloe, jelas terlihat betapa panorama alamnya demikian molek,landscape nya demikian terencana dengan baik, ditengah kotanya sungai silau membentang dengan jembatan yang indah.



Wajah pelabuhan menjadi ciri kota Tanjungbalai ketika itu, siapa sangka jika Pelabuhan (dulunya disebut BOM) juga terletak di tengah kota merupakan pelabuhan internasional, bahkan dari sini dulu diberangkatkan Jama'ah Haji dari berbagai daerah diSumatera Utara.


Wahai adek...jagalah nama Kota mu ini, jadikanlah ia Kota yang Berguna (...kata Said Effendi)